Langit Menangis di Sumatera: Saat Angka 1.157 Bukan Sekadar Statistik
Langit Menangis di Sumatera: Saat Angka 1.157 Bukan Sekadar Statistik

Hujan turun lagi sore ini. Suara rintiknya mengetuk jendela kaca di samping meja kerja saya, menciptakan irama monoton yang bukannya menenangkan, tapi malah membongkar paksa kotak pandora di sudut ingatan saya. Saya letakkan kopi yang baru setengah diminum. Tiba-tiba rasanya pahit, sepahit kenangan yang sudah belasan tahun saya coba kubur.
Membaca berita di layar hp saya hari ini rasanya seperti ditikam sembilu. “Indonesia Konfirmasi 1.157 Korban Jiwa Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera.”
Angka itu… 1.157.
Bagi pemerintah, itu data statistik. Bagi pembaca berita sekilas, itu “bencana alam”. Tapi bagi saya, angka itu membuat napas saya tercekat. Saya teringat masa itu. Masa di mana dunia saya runtuh, padahal korbannya “hanya” satu orang.
Anak pertama saya. Umurnya baru satu tahun. Wajahnya bulat, matanya berbinar seperti bintang kejora. Dia meninggal bukan karena longsor, bukan karena banjir bandang yang menyapu rumah. Dia pergi hanya karena demam tinggi yang tak kunjung turun. Sesederhana itu, dan semenyakitkan itu. Saya ingat betapa kecil tubuhnya yang kaku di pelukan saya. Saya ingat betapa dunia terasa sangat sunyi setelah tangisannya berhenti selamanya.
Hari ini, sebagai teman ngopimu yang sedang berkabung, saya tidak akan bicara soal cuan. Saya tidak akan bicara soal peluang bisnis kain kafan atau jasa kargo jenazah. Itu biadab. Hari ini, izinkan saya bicara tentang rasa sakit, tentang empati, dan tentang keberanian untuk bernapas ketika paru-paru rasanya penuh lumpur.
Matematika Duka: Satu Nyawa vs Seribu Nyawa

Kehilangan satu anak saja rasanya seperti separuh nyawa dicabut paksa. Rasanya seperti ada lubang menganga di dada yang angin sedingin es terus-menerus bertiup melaluinya. Saya ingat, berbulan-bulan saya hidup seperti zombie. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, melihat mainan kecil di lantai saja bisa bikin saya menangis meraung-raung di pojokan kamar.
Sekarang, bayangkan rasa sakit itu dikalikan 1.157.
Berita RRI menyebutkan angka itu dengan lugas. Tapi tahukah kamu? Di balik angka 1.157 itu, ada 1.157 nama. Ada 1.157 pasang mata yang tak akan terbuka lagi. Ada ribuan ibu yang (sama seperti saya dulu) memeluk baju anaknya yang masih bau keringat, berharap ini semua cuma mimpi buruk. Ada ribuan anak yang malam ini tidur kedinginan di pengungsian tanpa ayah yang biasa mendongengkan cerita sebelum tidur.
Dari kacamata saya sebagai manusia yang rapuh, bencana ini menampar kesombongan kita. Kita sering merasa hebat dengan rencana-rencana 5 tahun ke depan, target omzet miliaran, atau jabatan tinggi. Tapi lihatlah, ketika alam “berdehem” sedikit saja, manusia hanyalah butiran debu. Kita membangun rumah beton bertingkat, tapi tanah tempatnya berpijak bisa mencair dalam hitungan detik. Kita menumpuk harta di brankas, tapi banjir bisa menghanyutkannya lebih cepat dari kedipan mata.
Sungguh, ini adalah satir kehidupan yang paling kelam. Kita sibuk mengejar masa depan, sampai lupa bahwa hari esok itu sendiri tidak pernah dijanjikan untuk siapa pun.
Baca Juga : Timnas Punya Pelatih Baru: Saatnya Kita Belajar Menembus Batas Kemustahilan
Ketika “Ikhlas” Menjadi Kata Paling Kejam
Dalam situasi seperti ini, seringkali orang luar datang dengan kata-kata bijak: “Yang sabar ya,” atau “Semua sudah takdir,” atau “Ikhlaskan saja.”
Jujur, saat anak saya meninggal dulu, kata “ikhlas” terdengar seperti makian di telinga saya. Bagaimana bisa ikhlas? Itu darah daging saya! Itu harapan saya!
Saya membayangkan apa yang dirasakan saudara-saudara kita di Sumatera sekarang. Mungkin mereka ingin berteriak di depan wajah orang-orang yang menyuruh mereka sabar. Rumah mereka hilang, keluarga mereka tertimbun tanah, dan kita menyuruh sabar?
Sebagai kawan yang pernah hancur hatinya, saya ingin bilang: Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Menangislah. Meraunglah. Marahlah pada tanah yang longsor, marahlah pada hujan yang tak berhenti. Duka itu harus dikeluarkan, bukan disimpan jadi penyakit. Proses penyembuhan tidak dimulai dengan “sok kuat”, tapi dimulai dengan mengakui bahwa kita sedang hancur lebur.
Empati kita hari ini jangan hanya sebatas like dan share di media sosial. Bayangkan rasa dingin lumpur itu menyentuh kulitmu. Bayangkan gelapnya malam tanpa listrik dan kepastian. Kalau rasa sakit itu sudah sampai ke ulu hatimu, barulah doa kita benar-benar punya sayap untuk terbang ke langit.
Bangkit Bukan Berarti Melupakan
Lalu, apa setelah ini? Apakah kita akan terus menangis sampai air mata kering?
Saya ingat satu momen titik balik saya. Setahun setelah kepergian anak saya, saya melihat istri saya tersenyum tipis saat melihat anak tetangga bermain. Senyum itu rapuh, tapi ada. Di situ saya sadar: Dunia tidak berhenti berputar hanya karena kita berhenti melangkah.
Baca Juga : Demo Tuntut Gaji Naik: Kurang Duit atau Kebanyakan Gaya?
Matahari tetap terbit. Tagihan listrik tetap datang. Perut tetap lapar. Kehidupan punya cara yang kejam sekaligus indah untuk memaksa kita terus berjalan.
Saudara-saudaraku di Sumatera, dan kamu yang mungkin sedang mengalami kehilangan besar dalam hidupmu (entah kehilangan orang, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan arah), dengarkan ini:
Bangkit kembali bukan berarti kamu melupakan mereka yang pergi. Bangkit kembali bukan berarti kamu mengkhianati kesedihanmu. Bangkit adalah cara terbaik untuk menghormati mereka yang sudah tiada.
Anak saya pasti tidak ingin ayahnya hancur selamanya. Begitu juga keluarga yang hilang di Sumatera sana. Mereka pasti ingin yang selamat melanjutkan hidup, membangun kembali puing-puing, dan tersenyum lagi suatu hari nanti.
Kehidupan setelah bencana memang tidak akan pernah sama. Akan ada kursi kosong di meja makan. Akan ada hening yang janggal saat lebaran. Tapi percayalah, manusia itu makhluk yang luar biasa tangguh. Kita didesain Tuhan dengan kemampuan adaptasi yang gila. Luka itu akan membekas jadi parut, tapi parut itulah bukti bahwa kita pernah bertarung melawan takdir yang keras, dan kita menang karena kita masih bernapas.
Penutup: Peluk Erat Apa yang Kau Punya Hari Ini
Sore ini, setelah membaca berita itu, saya langsung menelepon istri saya. Cuma untuk tanya, “Lagi apa?” dan mendengar suaranya. Itu saja.
Teman-teman, musibah di Sumatera adalah peringatan keras buat kita yang masih aman dan nyaman. Pulanglah. Peluk anakmu, cium tangan orang tuamu, minta maaf sama pasanganmu kalau ada salah. Jangan gengsi bilang “Aku sayang kamu”. Karena kita tidak pernah tahu kapan “Banjir Bandang” versi hidup kita sendiri akan datang.
Mungkin artikel ini tidak memotivasi kamu untuk cari uang. Tapi saya berharap tulisan ini memotivasi kamu untuk memuliakan hidup.
Baca Juga : Bali Pasang Pagar Duit: Turis Wajib Kaya, Kita Wajib Cuan!
Sebagai sesama pejalan yang numpang lewat di dunia, kalau hari ini dadamu terasa sesak karena kehilangan, atau kamu butuh tempat untuk menumpahkan sampah emosi yang tidak bisa kamu ceritakan ke orang terdekat, jangan simpan sendiri. Saya bukan psikolog, tapi saya pendengar yang baik.
Kirimkan ceritamu ke admin@terangraya.com. Kita bagi beban itu. Kadang, obat terbaik untuk hati yang luka hanyalah telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Untuk Sumatera, doa kami melangit bersamamu. Untuk yang pergi, damailah di sana. Untuk yang tinggal, kuatlah. Kalian tidak sendirian.
Salam duka,
T.R. Wibowo


