Demo Tuntut Gaji Naik: Kurang Duit atau Kebanyakan Gaya?
Demo Tuntut Gaji Naik: Kurang Duit atau Kebanyakan Gaya?

Pagi ini dimulai dengan bencana level satu: Saya kesiangan. Alarm hp yang sudah saya setel lima kali sukses saya abaikan dengan gerakan refleks “snooze” yang terlatih. Begitu mata melek, jam dinding sudah menunjuk angka 06.45. Mampus!
Tanpa mandi (cuma cuci muka dan sikat gigi kilat), saya menyambar tas dan lari terbirit-birit menuju stasiun. Dan benar saja, kereta yang biasa saya tumpangi baru saja menutup pintunya tepat di depan hidung saya. Rasanya ingin teriak, tapi napas sudah habis. Terpaksa menunggu jadwal berikutnya yang padatnya seperti kaleng sarden.
Sampai di stasiun tujuan, bencana belum selesai. Jam sudah mepet banget. Saya terpaksa lari ngabret dari peron sampai ke pangkalan ojek. Sialnya, aplikasi ojek online menunjukkan tarif “Surge Pricing” alias tarif setan karena jam sibuk. Mau tidak mau, demi absen tidak merah, saya klik order dengan hati teriris. Dompet saya menjerit pagi ini.

Sesampainya di kantor, dengan keringat sebesar biji jagung dan napas ngos-ngosan, saya menghempaskan pantat di kursi. Sambil berusaha menormalkan detak jantung, saya buka portal berita. Headline-nya langsung menampar wajah saya yang masih berminyak ini: Ribuan Buruh Demo di Jakarta Tuntut Kenaikan Upah.
Seketika, rasa kesal saya karena telat dan ongkos mahal tadi lenyap. Berganti dengan sebuah renungan panjang. Di luar sana, ribuan orang sedang berpanas-panasan memperjuangkan angka di slip gaji mereka. Tapi di sini, sebagai teman ngopimu hari ini (yang kopinya belum sempat diseduh), saya justru ingin mengajak kamu melihat fenomena ini dari sudut pandang yang agak menyentil ulu hati.
Gaji yang Kurang atau Syukur yang Hilang?

Melihat ribuan orang turun ke jalan, hati kecil saya bertanya: “Sebenarnya gaji kita yang kurang, atau rasa syukur kita yang minus?”
Kejadian pagi ini menyadarkan saya. Meski saya harus lari-lari kayak maling ayam dan bayar ojek mahal, setidaknya saya punya tujuan. Saya punya kantor untuk didatangi. Saya punya pekerjaan yang masih mau menggaji saya setiap bulan. Banyak di luar sana yang bangun pagi bingung mau ke mana karena baru saja kena PHK.
Demo itu hak. Menuntut perbaikan nasib itu wajib. Tapi, sebagai kawan yang menolak menyerah, saya ingin mengingatkan satu hal: Jangan sampai energi kita habis untuk mengeluh pada keadaan, sampai lupa berterima kasih pada apa yang sudah ada di tangan.
Terkadang, kita merasa gaji “Cuma Lewat” bukan karena nominalnya kecil, tapi karena kita tidak menghargai setiap rupiah yang masuk. Kita anggap remeh recehan, padahal dari recehan itulah kekayaan dibangun. Kalau mental bersyukur ini belum beres, dikasih gaji 100 juta pun rasanya akan tetap kurang. Percayalah.
Baca Juga : Bali Pasang Pagar Duit: Turis Wajib Kaya, Kita Wajib Cuan!
Jebakan Batman Bernama “Gengsi”
Nah, ini poin yang paling krusial dan mungkin akan bikin kuping panas. Seringkali, teriakan “Gaji Kurang!” itu sebenarnya adalah teriakan dari “Gaya Hidup yang Kegedean”.
Coba kita jujur-jujuran. Dari kacamata saya sebagai pengamat jalanan, saya sering melihat fenomena aneh. Gaji UMR (atau sedikit di atasnya), tapi hp wajib iPhone keluaran terbaru (cicilan 12 bulan, tentu saja). Motor wajib Nmax atau Vespa matic biar keren pas kopdar.
Belum lagi kalau sudah punya anak. Ada semacam standar tak tertulis di kalangan orang tua muda zaman now: “Sayang anak = Sering ajak ke Mall”. Tiap akhir pekan, story Instagram isinya makan di restoran mall yang sekali duduk habis 500 ribu. Anak merengek minta mainan mahal diturutin, minta jajan brand mahal diturutin. Alasannya? “Biar anak seneng, biar nggak kayak orang susah.”
Padahal? Boncos, Bos!
Teman-teman, gengsi adalah pembunuh finansial nomor satu. Kita sering merasa miskin bukan karena gaji kita rendah, tapi karena kita maksa hidup dengan standar orang kaya. Kita sibuk memberi makan gengsi, sampai lupa memberi makan tabungan masa depan.
Lihat Juga : Bali Pasang Pagar Duit: Turis Wajib Kaya, Kita Wajib Cuan!
Kalau gaji naik 10%, tapi gaya hidup naik 20%, ya selamanya akan merasa kurang. Demo sampai suara serak pun tidak akan mengubah nasib kalau mentalitas “biar tekor asal kesohor” ini masih dipelihara. Coba evaluasi lagi: Apakah kita benar-benar butuh iPhone itu? Apakah anak harus tiap minggu makan di mall? Atau sebenarnya, masakan istri di rumah dan main bola di lapangan kampung jauh lebih sehat buat badan dan dompet?
Di Balik Demo, Ada Peluang Cuan
Tapi, mari kita kembali ke mode bisnis. Sebagai orang yang selalu berhitung, saya melihat kerumunan massa bukan cuma sebagai penyebab macet, tapi sebagai pasar kaget yang potensial.
Ribuan buruh demo di Jakarta. Mereka butuh minum. Mereka butuh makan. Mereka butuh rokok. Di sinilah insting pedagang harus main.
-
Pasukan Starling (Kopi Keliling): Kalau kamu jeli, kerumunan demo adalah ladang emas buat jualan es kopi, air mineral dingin, atau gorengan. Omzet sehari saat demo bisa ngalahin gaji seminggu kerja kantoran. Jangan nyinyir liat demo bikin macet, tapi liatlah haus mereka sebagai peluang.
-
Konten Kreator Dadakan: Situasi panas, orasi berapi-api, itu konten yang “mahal”. Kalau kamu ada di lokasi, live streaming atau bikin liputan pandangan mata ala warga bisa mendatangkan traffic gila-gilaan. Traffic = Uang di era digital ini.
-
Jasa Transportasi Alternatif: Saat jalan utama ditutup, ojek pangkalan atau ojek online yang tau jalan tikus bakal jadi primadona. Orang rela bayar mahal (seperti saya pagi ini) asal bisa sampai tujuan.
Jadi, bahkan di dalam berita yang nadanya protes dan ketidakpuasan, uang tetap berputar. Uang tidak pernah tidur, dia hanya berpindah dari orang yang mengeluh ke orang yang melihat peluang.
Lihat Juga : Timnas Punya Pelatih Baru: Saatnya Kita Belajar Menembus Batas Kemustahilan
Penutup: Benahi Dapur Sendiri Sebelum Teriak di Jalan
Teman-teman, pagi yang kacau ini memberi saya pelajaran mahal. Lari mengejar kereta itu capek, tapi lebih capek lagi lari mengejar gaya hidup yang tidak ada garis finish-nya.
Sebelum kita ikut-ikutan berteriak menuntut dunia memberi lebih, coba cek dulu “kebocoran” di dompet sendiri. Apakah gajimu benar-benar kurang, atau gengsimu yang terlalu mahal? Apakah kamu kerja buat masa depan, atau kerja buat bayar cicilan barang yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat?
Hidup sederhana itu bukan berarti miskin. Hidup sederhana itu strategi. Strategi menahan diri sekarang, supaya nanti bisa lari lebih kencang saat orang lain kehabisan napas.
Sebagai sesama pencari peluang, saya mengajak kamu untuk audit keuangan hari ini. Coret pengeluaran gengsi, alihkan ke investasi atau modal usaha sampingan. Kalau kamu merasa buntu mengatur keuangan atau punya ide usaha sampingan biar nggak cuma ngarepin gaji kantor tapi bingung mulainya, yuk kita diskusi. Saya senang ngobrol sama orang yang mau berubah.
Kirim curhatan finansialmu atau ide bisnismu ke admin@terangraya.com. Kita cari solusi bareng-bareng supaya bulan depan nggak perlu lagi lari-lari dikejar tagihan (atau dikejar kereta).
Sekarang, saya mau lanjut kerja dulu. Keringat sudah kering, tapi semangat cari cuan harus tetap basah.
Salam,
T.R. Wibowo


